[Review] Tanah Air Beta (2010)

Image and video hosting by TinyPic

Title : Tanah Air Beta Cast : Alexandra Gottardo, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, Griffith Patricia, Yahuda Rumbindi, Tessa Kaunang, Robby Rumewu, Ari Sihasale, Marcel Raymond Director : Ari Sihasale Rate :

Alenia mencoba kembali membuka mata penonton Indonesia tentang negaranya sendiri. Pertama-tama gue membaca judulnya, yang ada dibenak gue adalah Nasionalisme di daerah konflik, perbatasan. Namun, setelah menikmati film ini sampai akhir malah bukan fokus itu yang diberikan. Tapi sebuah drama dari keluarga kecil dan sedikit komedi khas Indonesia Timur.

Adalah seorang guru dari sebuah kamp pengungsian NTT, Tatiana (Alexandra Gottardo) yang mencoba mencari anaknya yang terpisah. Dia dan anaknya yang lain, Merry (Griffith Patricia) mencoba membangun sebuah keyakinan bahwa suatu saat mereka pasti akan bertemu dan berkumpul sebagai keluarga secara utuh. Penantian Tatiana diselingi oleh kisah seorang Abu Bakar (Asrul Dahlan) yang mencoba survive dan tetap tersenyum dengan apa yang sudah dia alami, ditemani Carlo (Yahuda Rumbindi) seorang anak yatim piatu yang bandel dan menjadi musuh bebuyutan Merry di sekolah. Atas bantuan relawan (Lukman Sardi) mereak terus menerus berharap akan pertemuan dengan sang anak tertua Mauro (Marcel Raymond). Perjalanan dari masing-masing karakter ini yang menentukan kisah Tanah Air Beta.

Menjadi bagian dari Indonesia Timur, gue merasa paham atas apa yang sebenarnya terjadi di bumi Timur. Sebuah perjuangan atas keterbatasan dan keyakinan akan hari baik atas hidup. Tokoh-tokoh dalam film inipun paling tidak menyiratkan pesan seperti itu. Bahwa mereka masih punya pengharapan besar atas hidup mereka. Meskipun film ini kemudian “dibelokkan” menjadi film petualangan Merry-Carlo ke perbatasan namun gue enjoy menikmati momen-momen sahabat. Sebenarnya banyak celah di film ini yang dirasa tak masuk akal. Seperti tidak diperlihatkannya kegundahan Tatiana sembari menunggu Merry pulang atau alasan apa yang tepat mengapa sepasang suami-istri pemilik toko kelontong sangat mencintai anak pribumi. Yah, mungkin memang Alenia ingin membangun sebuah positive scene tentang keberagaman Indonesia dengan keramahannya.

Scoring film ini patut diberi jempol, musik-musiknya terasa sangat merasuki setiap adegan film. Kelucuan Carlo masih dalam porsi yang wajar dan….Pak..itu yang dibelakang saya annoying deh teriak-teriak kegirangan setiap Carlo akan melucu*ini beneran*.

Well, on my thought. Film ini berhasil membuat gue sedikit merinding saat pertemuan Mauro dan Merry. Meskipun agak janggal, tak ketemu beberapa tahun tak ada pelukan. Come On Mauro, Merry adikmu bukan orang lain.

4 comments

  1. ochie_geeks · July 24, 2010

    Good movie idea,bad execution, setuju klo judul ama ceritanya jadi mbelok.
    Adegan terakhir awkward bgt, masa nyari org smbl nyanyi, jadi kya film india…-_-
    Hihihihi

  2. djaycoholyc · July 24, 2010

    Haha adegan terakhir sebenernya sih udah dalam porsinya chie, cuma emosionalnya aja yang kurang. Kayak gak bertahun2 ketemu😀

  3. Amir · July 26, 2010

    *Ibu kitaaaaa karrrtiniiiiiii
    Puteri sejaaatiiiiii
    Puteri Indonesiiaaaaa
    Haaarummmm naaamaaaaanyaaaaa

    *sambil celingak-celinguk nyari sodara yang lama ilang

    Eh… lagunya Ibu Kita Kartini bukan yah? Hmmm…

    • djaycoholyc · July 28, 2010

      -________– *timpuk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s