Perfect Life – Part 1

Setelah berkutat 5 jam di depan dua monitor personal komputernya, Romi mulai merasakan keletihan yang luar biasa. Dia berhenti sejenak dari aktifitasnya. Meskipun dia tahu bahwa setiap detiknya hari ini sangat berharga, sebuah project yang bakal dia presentasikan di dewan dosen dan penguji untuk tugas akhirnya. Sebuah film Indie tentang hubungan erat Indonesia-Amerika dan asimilasi kebudayaan serta agama dalam pandangan dirinya. Menjadi sutradara film adalah cita-citanya dari kecil, dia sering sekali berimajinasi bahwa satu saat nanti dia ingin membuat karya film yang spektakuler, mengalahkan Titanic milik James Cameron.

Dibalik kekuatan mimpinya itu terselip sebuah kisah yang cukup menyakitkan bagi dirinya. Cita-cita itu tak pernah direstui oleh ayahnya. Seorang konglomerat kaya di Indonesia yang sering kali mendorong Romi menjadi pengusaha persis seperti dirinya. Gesekan antara kepentingan ayahnya dan keinginan dirinya membuat dia menjadi sangat jauh dari ayahnya, baik secara jarak maupun secara hati. Itulah yang membuat Romi dengan modal nekatnya menuju ke Amerika, tepatnya di Los Angeles untuk menimba ilmu menjadi sutradara dan mengabaikan ancaman sang ayah saat dia hendak pergi ke Amerika lima tahun lalu.

“Jangan pernah menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi sebelum kamu melepaskan impian gila kamu itu. Menjadi sutradara di Indonesia itu artinya kamu siap kere!”.

Tamparan secara perkataan itu bahkan lebih pedas ketimbang tangan yang melakukannya. Tapi bukan Romi jika dia tak mampu melawan ayahnya.

“Apapun yang papah ributkan, tekad aku untuk jadi seorang sutradara udah bulat. Titik!”.

Dan itulah terakhir kali mereka mengobrol, tak terasa sudah lima tahun.

iPhone-nya berdering, dia beranjak dari duduknya kemudian mengambil handphone-nya itu yang terletak agak jauh dari jangkauan dirinya.

Nomor Indonesia di jam lima sore.

“Halo”, sapa Romi.

“Gue, Robi”.

“Mas, tumben lo nelfon jam segini”.

Robi, sang kakak terdiam.

“Udah lima tahun lo gak pulang ke rumah, mungkin ini saatnya lo pulang Rom”, ujar Robi tenang.

“Sebentar-sebentar, lo nyuruh gue pulang? Apa itu artinya bokap udah maafin gue dan mau nerima gue apapun jadinya gue?”.

“Bukan Rom, lo tau bokap kan? Orang paling keras hati di dunia ini. Ini bukan soal bokap, ini soal nyokap”.

“Nyokap? ada apa? kenapa sama dia?”.

“Semalem nyokap kena serangan jantung, saat ini dia masih di rawat di ICU. Dan, ini adalah serangan kelima dalam 4 bulan belakangan”.

Romi tertunduk, dia memang sangat berseberangan dengan ayahnya. Tapi jika itu menyangkut masalah ibunya, apapun akan dia lakukan.

“Gue harap lo ngerti Rom, lupakan dulu perang lo sama bokap. Lo pulang ke Indonesia, demi nyokap”, sambung Robi.

“Mas, bukannya gue..”.

“Gue gak butuh alasan lo atau excuse lo tentang ini. Tapi gue cuma gak mau lo nyesel nantinya, kalau nyokap…”.

Romi tak kuasa lagi mendengar kabar dari sang kakak, iPhone-nya telah dia letakkan meskipun pembicaraan itu belum selesai. Hatinya seolah-olah kosong, dia merasa menjadi anak yang paling durhaka di dunia ini. Bagaimana tidak, sang ibu tak pernah mengeluh sedikitpun tentang cita-citanya. Ibunya memang pendiam, tapi bukan wanita yang lemah dan nrimo. Dia tahu bahwa ibunya adalah sosok paling kuat di keluarganya, melebih sang ayah. Kini sang Ibu kritis dan dia tak ada di sampingnya.

Pintu apartement terbuka, sosok laki-laki memasuki apartement Romi. Dia adalah Adi, teman satu apartement-nya. Sama-sama dari Indonesia, hanya saja Adi adalah seorang karyawan perusahaan multinasional dengan pangkat lumayan bagus dan gaji yang lumayan tinggi.

“Sore bro, everything okay?”, tanya Adi setelah melihat Romi hanya tertunduk di sofa.

“Man, i.. i need your help”.

“What’s wrong? apa yang bisa gue bantu”, Adi sosok yang memang sangat bersahabat.

“Gue harus balik ke Jakarta, nyokap kritis dan..dan jujur gue lagi gak punya banyak duit. Gaji freelance gue udah abis buat beli kamera baru dan..”.

“Lo butuh berapa? gue akan bantu kok”.

“Gue cuma butuh beli tiket balik aja kok, dan gue janji setelah urusan gue di Jakarta selesai dan gue balik kesini lagi. Gue ganti duit itu”

“Man, lo gak usah fikirin itu dulu. Yang penting lo buru-buru booking tiket ke Jakarta, lo tau kan bulan Oktober kayak gini biasanya full”.

“Thanks man”.

Adi mengangguk pelan, dia tak tega melihat teman yang dia kenal sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Amerika ini terlihat sangat depresi.

Romi berjalan pelan ke kamarnya, kemudian menutup pintu kamarnya pelan. Hatinya tak tenang, jauh di Jakarta sana wanita yang sangat dia sayangi tergeletak tak sadarkan diri di ruang ICU.

6 comments

  1. kania · October 5, 2010

    ditunggu lanjutannya🙂

    • djaycoholyc · October 5, 2010

      hihi makasih mbak udah dibaca. Semoga lancar tulisan yg ini yaa :D:D

  2. demetot · October 5, 2010

    kalo gantung kaya jeng roki, takkan kuampuni :hammer:

    romi nya ganteng ga *kedip kedip

  3. tege · October 5, 2010

    paling sebel kalo cerita blom selesai udh dipublish -,-

    buruan kasih ke penerbit knapa, biar gw bisa baca hardcopynya. Puyeng baca di hape or pc😦

  4. aemeilliani · October 6, 2010

    argggh lagi enak2nya baca cuma segitu ajah…segera lanjutannya dong…masih menerawang nih, hayuuuk segera dibikin :p

  5. djaycoholyc · October 10, 2010

    @mey, tege, lia
    kyaahahahha :D:D

    sabar napaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s