[Movie] Eat Pray Love (2010)

Title : Eat Pray Love  Cast : Julia Roberts, Billy Crudup, James Franco, Tuva Novotny, Luca Argentero, Christine Hakim, Javier Bardem, Hadi Subiyanto, Richard Jenkins Director : Ryan Murphy Rate :

Liz Gilbert (Julia Roberts) bisa dibilang sosok yang selfish, demi kebahagiaan dirinya dia rela meninggalkan suaminya Stephen (Billy Crudup). Kemudian dia bertemu David (James Franco) seorang seniman yang pada akhirnya tetap tidak bisa memuaskan kebahagiaan Liz, diapun merasa harus melakukan sesuatu untuk hidupnya. Dipilihkan Italia, India dan Indonesia. Saat di Italia, dia tahu betul bagaimana kebahagiaan bisa dimulai dari makanan, apalagi dia bertemu dengan Sofi (Tuva Novotny) Swedsih yang berpacaran dengan guru bahasa Italia Giovanni (Luca Argentero) yang ibunya tukang masak. Maka merekapun berkumpul dan berbahagia dengan makanan. Ke India, Liz menemukan kebahagiaan lewat kedekatannya dengan reliji, ada Richard (Richard Jenkins) duda yang juga sedang mencari pencerahan agama di India.

Setelah puas dengan pencerahannya, Liz akhirnya mengakhirinya di Bali, Indonesia. Disini dia bahagia karena dia menemukan Felipe (Javier Bardem), duda yang sangat perhatian dan awalnya sangat tidak percaya akan cinta, setelah istrinya meninggalkannya. Liz yang memang sudah merencanakan kembali ke Bali setelah setahun sebelumnya bertemu Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) seorang peramal, hingga dia bertemu dengan Wayah Nuriasih (Christine Hakim) sosok ibu satu anak yang membuat dia tahu bahwa kebahagiaan atas cinta bisa dilakukan kepada setiap orang.

Apa yang membuat film ini spesial bagi kebanyakan orang Indonesia? sudah jelas bahwa film ini meng-eksplor keindahan Bali dan keramah tamahan warga lokalnya. Tapi, mengapa dalam keseluruhan scene di Bali tidak ada dialog dalam bahasa Bali (paling tidak) atau bahasa Indonesia, untuk mempertegas bahwa ini adalah Bali. Sebagai contoh saat Liz berada di Italia, Liz bahkan sampai membeli kamus bahasa Italia dan berbicara dalam bahasa Italia lebih dari sekedar “Terima Kasih”.

Seboring-boringnya film ini, scene Bali adalah yang terbaik di film ini. Entah karena nasionalisme gue yang tinggi atau memang porsi cerita Bali ini lebih mendingan ketimbang dua sebelumnya. Overall, 2.5 jam itu too much untuk film drama sesimple ini, ya ceritanya simple, sangat simple. Satu aja yang gue demen di film ini, scoring dan soundtracknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s