Toraja, Eksotisme Berbalut Mistis

toraja1Toraja, Eksotisme Berbalut Mistis

Saya tak pernah berfikir bahwa akan ada satu masa saya berada di sebuah tempat yang jauh dari kampung halaman yang kemudian seperti menjadi kampung halaman kedua saya (meski terpaksa). 1,5 tahun sudah saya tinggal (sementara) di Makassar demi mencari sesuap nasi. Dan dalam range waktu tersebut mungkin trip ini adalah yang pertama kali. 2013, awal tahun saya buka dengan menghabiskan waktu 3 hari bersama teman-teman kantor sedikit melepas lelah di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Akhir tahun 2012, ada kabar bahwa salah satu teman kantor menikah dan resepsinya akan digelar di Tana Toraja tempat kelahirannya. Saya jelas sangat menantikan hari itu, karena bukan saja bisa menghadiri pernikahan teman sekaligus (akhirnya) menapakkan kaki ke Toraja. Pertama kalinya.

Jum’at, 04 Januari 2013.

Persiapan selesai, cek semua yang harus dibawa. Perlengkapan mandi dan baju-baju yang cukup. Mengingat perjalanan akan menempuh jarak yang lumayan jauh (oh, memang jauh) dengan waktu tempuh kira-kira 8 jam maka saya harus menyiapkan hal yang paling penting selama perjalanan : Snack dan minuman. Bukan, bukan karena di sepanjang jalan menuju Toraja tidak ada makanan tapi faktor irit. Ceritanya memang mau backpacker.

Gak telat gak Indonesia dong, rencana jalan jam 7 malam akhirnya bisa benar-benar jalan jam 8.30 malam– kali ini kambing hitam ada pada Frans Aris, si tukang telat. Ha!.

maps

Rute yang akan dilewati adalah : Makassar – Maros – Pangkep – Barru – Pare – Sidrap – Enrekang – Toraja.

Sabtu, 05 Januari 2013

Tepat jam 6 pagi kita sudah memasuki Makalle, Toraja. Makalle adalah satu dari dua kecamatan besar di kabupaten Toraja. Istirahat untuk acara siang di pernikahan teman. –Bagian ini diskip aja ya.

Setelah menyelesaikan ‘tugas’ dari kantor, maka bersiaplah kita ber-9 untuk berpetualang di Toraja. First destination : Kuburan goa alam Londa.

toraja2

Londa adalah tempat wisata religi (bisa dibilang begitu) dengan konsep alam yang yah, dibiarkan begitu saja. Saya fikir pada awalnya cerita-cerita tentang pekuburan di Toraja yang begitu beda dengan yang lain hanyalah sebatas meletakkan peti mati di gunung dan selesai. Rupanya tidak, ada adat yang musti diikuti, ritual yang musti dijalankan. Gambaran Londa jelas membuat saya tercengang, bukan cuma secara tampilan yang begitu natural namun secara mistis. Aura yang menyebar di Londa adalah aura yang seharusnya bukan tempat wisata. Jelas, saya merasakan banyak “kehadiran” mahluk yang seharusnya sudah tenang di alam sana. Sebagai contoh, saat kita masuk ke dalam goa yang cukup menegangkan, guide menjelaskan tentang dua tengkorak yang bersebelahan dengan apik dan rapih.

“Ini adalah dua tengkorak milik sepasang kekasih yang tak jadi menikah karena alasan restu orang tua mereka dan kemudian mereka meminum racun dan mati bersama-sama”

Sweet? Buat saya, konyol. Tapi mungkin itulah cinta yang sebenarnya. Kejadian itu diceritakan sudah lebih dari 50 tahun yang lalu. Tapi apa yang membuat saya mendadak tertarik? Saat salah satu teman mendekati dua tengkorak itu dengan sadar saya melihat jelas ada dua pasang pria-wanita yang mendadak muncul di bebatuan dengan menggunakan baju pesta. Yang perempuan mengenakan gaun pengantin putih panjang dan yang pria menggunakan tuxedo. Kebetulan? entahlah.

Setelah memasuki goa pertama di Londa, saya iseng bertanya ke guide.

“Dua tengkorang pasangan tadi kejadiannya..”

“Pas pernikahan mereka mas”.

Terjawab kebetulan itu.

Setelah cukup merasakan energi aneh di goa itu, kita keluar. Dan kemudian masuk ke goa kedua yang berdampingan lumayan dekat dengan goa pertama. Di dalam ini, aura yang ada di goa pertama tak kuat. Biasa dan lembab. Setelah menyelesaikan goa kedua, kita beristirahat sejenak dan kemudian terjadi insiden…. peti mati yang ada di atas batu mendadak jatuh, memporak porandakan tengkorak yang ada di dalamnya. Tak ada korban, saya refleks menoleh ke atas tempat peti tadi seharusnya bertengger. Sosok kakek menggunakan sarung dengan duduk dan tersenyum. Tak ada yang melihat kakek itu.

Setelah menyelesaikan trip Londa (yang sebenarnya kita masih ingin menjelahi namun batal karena insiden tadi) kita beranjak ke sebuah desa yang lumayan dekat dengan Londa untuk menyaksikan acara adat. Salah satu ritual kematian orang Toraja, adu kerbau. Tak begitu menikmati acara adat ini karena mendadak kasihan sama kerbau yang diadu.

Hari pertama terlewati, menurut orang Toraja kita sudah melengkapi acara pesta mereka. Karena kita mendatangi dua acara adat terbesar sekaligus: Rambu Tuka (pernikahan) dan Rambu Solo (kematian).

Minggu, 06 Januari 2013

Sabtu malam mendapatkan informasi mendadak bahwa jalur Toraja – Makassar mendadak lumpuh karena banjir besar dan jebolnya salah satu tanggul membuat kita was-was. Kita tak mungkin bisa pulang ke Makassar pagi itu, maka kita memutuskan untuk memundurkan perjalanan pulang menjadi jam 2 siang. Menghabiskan 6 jam tersisa untuk mengunjungi dua lokasi: Makula dan Kete’ Kesu.

Makula adalah pemandiang air panas (yang sudah tida terlalu panas) dan Kete’ Kesu adalah kuburan goa sama seperti Londa.

toraja3Lalu apa bedanya Kete’ Kesu dengan Londa? Dalam mata saya, Kete’ Kesu jauh lebih mistis ketimbang Londa. Konsepnya sama, namun Kete’ lebih ekstrim karena jika ingin ke goa maka harus menanjaki tangga yang cukup melelahkan. Saking penasarannya, kitapun nekat masuk ke goa tersebut. Ah, saya tidak bisa berkata-kata apa di goa ini. Saya sempat meminta teman-teman untuk mengakhiri perjalanan di goa ini, saya merasakan aura yang super negatif di goa ini. Jauh lebih mencekam ketimbang di Londa.

Di sini, tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak benar-benar dibiarkan di sisi kanan-kiri tangga tempat kita berjalan. Saya berfikir jika para pramuka menjalani jurit malam di sini pasti bakal seru (Tidak!).

toraja4

Setelah menyelesaikan trip ke Kete’ Kesu kitapun beranjak pulang ke Makassar. Another 8 hours dan sempat ketakutan akan menginap di jalan karena sebelumnya ada kabar bahwa banyak yang menginap di jalan karena musibah banjir dan jalanan tertutup air sampai pinggang. Untung saja saat kita lewat air sudah surut dan jalanan lancar. Alhamdulillah.

Sebagai gambaran, jika anda ingin berkunjung ke Toraja. Berikut sedikit anggaran biaya minimal yang mesti disediakan:

Bus dari Makassar ke Toraja : 85.000 sampai 160.000 (tergantung kelas Busnya). Jika ingin rental mobil maka akan cukup mahal.

Biaya masuk ke objek wisata Londa : 5.000

Biaya masuk ke objek wisata Kete’ Kesu : 10.000

Makan pagi/siang/malam hendaknya memilih dengan jeli karena kebanyakan di Toraja menyediakan daging babi dan sedikit sekali yang menyediakan makanan non-babi.

Baru sadar, ini adalah tulisan saya yang kedua tentang perjalanan. Ah saya memang kurang bisa menata kata untuk menceritakan perjalanan wisata saya. Karena kenangan saya terekam di otak, bukan di tangan.

Selamat liburan ke Toraja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s