[Sebuah Catatan] A Decade of Indonesian Movie

A Decade of Indonesian Movie

Tulisan ini pernah saya tulis di Kaskus, berhubung ada di server lama dan sepertinya akan dimusnahkan. 20 Film Indonesia ini adalah film yang beredar di tahun 2000 – 2009. Selamat menikmati.

Note : Segala tulisan saya nantinya adalah buah pemikiran saya pribadi, tanpa berusaha untuk membuat selera menonton film menjadi terganggu. Semua tulisan ini adalah murni untuk kepentingan saya sebagai penikmat bukan pengamat Film Indonesia. Setuju atau tidak setuju adalah hak anda, jika tidak berkenan maka mungkin selera saya yang tak sama dengan yang lainnya.


Dalam 10 tahun pertama di abad 21. Film Indonesia kembali bangkit, setelah hampir 12 tahun mati suri tanpa ada karya. Namun kini bisa dicatat lebih dari 1000-an judul film (baik major, indie,dokumen atau pendek) yang beredar selama 2000-2009. Tak bisa dipungkiri keragaman genre membuat penonton kita semakin jeli menonton dan memilah mana film-film yang layak tonton ataupun tidak. Terlepas dengan tren “mengekor” kesuksesan sebuah tema, film Indonesia saya rasa adalah dinamika yang terus menerus berubah-ubah dan menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Dari sisi acting sampai teknis.

Inilah 20 Film Indonesia sepanjang 2000-2009 yang saya catat terekam di benak saya. Saya tidak memaksakan anda untuk setuju dengan daftar ini, hanya saja sebagai penikmat film Indonesia inilah 20 tontonan yang menurut saya layak dan bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Urutan ini murni pilihan saya, dari yang suka sampai sangat suka sekali.

20. SELAMANYA

Cast : Julie Estelle, Dimas Seto, Masasyu Anastasia
Rilis : 19 Juli 2007
Sutradara : Ody C. Harahap

Bercerita tentang seorang gadis, Aristha (Julie Estelle) yang terjerumus dalam dunia narkotika karena dijerumuskan oleh sang kekasih semasa SMA, Bara (Dimas Seto). Kemudian beberapa tahun kemudian, Bara merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi oleh Aristha sehingga dia melakukan apapun untuk membuat Aristha sembuh, termasuk memasukkan Aristha ke panti rehabilitasi. Bara sudah sembuh dari ketergantungan sebelumnya. Masalah muncul ketika cinta Bara kemudian tumbuh lagi ke Aristha, padahal Bara sedang merencanakan pernikahan dengan kekasihnya yang baru. Gejolak itu membuat Bara harus memilih cinta sejatinya untuk selamanya.

Film yang diadaptasi dari novel karya Sekar Ayu Asmara ini membawa tema baru di jagad film Indonesia kala itu. Tanpa promosi yang terlalu besar film ini mampu membangkitkan kualitas Film Indonesia dengan tema yang berbeda. Salah satu scene yang sangat memorable di film ini adalah adegan striptease yang dilakukan oleh Masayu Anastasia, dia bahkan masuk nominasi Pemeran pendukung Wanita terbaik di sebuah ajang penghargaan film.

19. CATATAN AKHIR SEKOLAH

Cast : Vino G Bastian, Marcel Chandrawinata, Ramon Tungka, Christian Sugiono, Joanna Alexandra
Rilis : 31 Maret 2005
Sutradara : Hanung Bramantyo

Arian (Vino G. Bastian), Alde (Marcel Chandrawinata) dan Agni (Ramon Tungka) adalah 3 sahabat sejati yang kemana-mana selalu bersama. Mereka selalu dipandang rendah oleh teman-teman SMA-nya karena ke-cupu-an mereka, kecuali Alde yang sebenarnya paling populer di sekolah. Karena ke-cupu-an mereka, mereka memutuskan untuk membuat sesuatu yang pikir mereka akan membuat sekolah memperhatikan mereka dan menganggap mereka ada. Bertepatan dengan acara prom, mereka menampilkan sebuah realita baru di sekolah mereka, realita yang menjadikan mereka sukses di kemudian hari menjadi apa yang mereka mau.

Film ini bisa jadi adalah batu loncatan bagi semua cast disini. Nama-nama mereka akhirnya cukup menjadi gimmick di film-film mereka selanjutnya. Bagi saya film ini sukses membuat sebuah realita tentang sekolah dan pendidikan yang mungkin saja benar-benar terjadi di sekitar kita. Walaupun akting-akting mereka terkadang berlebihan paling tidak ini menjadi format film-film bergenre anak sekolah yang menarik dan menghibur.

18. BELAHAN JIWA

Cast : Rachel Maryam, Dinna Olivia, Nirina Zubir, Marcella Zalianty, Dian Sastrowardoyo, Alexander Wiguna
Rilis : 17 Desember 2005
Sutradara : Sekar Ayu Asmara

Empat wanita, Cairo seorang pelukis (Rachel Maryam), Farlyna seorang desainer pakaian (Dinna Olivia), Baby Blue seorang arsitek (Nirina Zubir) dan psikolog Arimby (Marcella Zalianty) dengan empat permasalahan psikologis yang berbeda terlibat dalam hubungan serius dan hamil dengan pria yang sama. Namun tanpa mereka ketahui, pria ini juga menjalin hubungan dengan Cempaka (Dian Sastrowardoyo), seorang wanita dengan masa lalu yang misterius.

Apa menariknya lima aktris papan atas bermain dalam satu layar dan bermain dalam film drama thriller priskologis? Banyak yang bilang wasted of talent dan poor quality. Tapi bagi saya pribadi, film ini memanjakan saya lima kali lebih banyak dari biasanya. Memandangi 5 aktris berbakat akting dengan kualitas mereka adalah sebuah tontonan yang menarik. Mungkin ceritanya dangkal, tapi bagi saya pribadi yang memang menyukai thriller psikologis film ini begitu bagus dan menegangkan. Mereka membentu karakter mereka dengan sangat konsisten dan film ini menjadi satu dari beberapa film thriller psikologis favorit saya.

17. QUICKIE EXPRESS

Cast : Tora Sudiro, Aming Sugandhi, Lukman Sardi, Ira Wibowo, Sandra Dewi
Rilis : 22 November 2007
Sutradara : Dimas Djayadiningrat

Jojo (Tora Sudiro), Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi) tiga orang yang tak pernah tahu bahwa nasibnya akan menjadi seorang gigolo kelas kakap. Mereka mempunyai “modal” yang cukup untuk menjadi gigolo. Konflik film ini ada pada Jojo, dia kemudian jatuh cinta pada Lila (Sandra Dewi) anak dari seorang tante yang menjadi langganan tetap Jojo.

QE adalah pioneer dari film-film bergenre sejenis berikutnya, namun sayang film-film berikutnya malah terkesan hanya pornografi yang terselubung, tak ada kekuatan cerita atapun kualitas akting. Namun, QE lain, film ini menjadi masterpiece Dimas Djay yang baru pertama kali menggarap sebuah film. Banyak yang menyukai walau terkesan vulgar.

16. TENTANG DIA

Cast : Adinia Wirasti, Sigi Wimala, Fauzi Baadilla
Rilis : 17 Febuari 2005
Sutradara : Rudi Soedjarwo

Rudi (Adinia Wirasti), gadis mandiri yang mempunyai masa lalu kelam tentang adiknya mulai menata hidupnya lagi. Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja. Gadis (Sigi Wimala), gadis rapuh yang ditinggal oleh kekasihnya mulai goyah dalam hidupnya meskipun ada Randu (Fauzi Baadilla), laki-laki yang terus menerus mengejar cinta Gadis. Gadis bertemu dengan Rudi, mereka kemudian bersahabat, namun Gadis merasakan sesuatu yang tak boleh dia ungkap. Dia mencintai Rudi secara tiba-tiba. Jelas saya, Rudi tak menyangka bahwa perhatiannya ke Gadis disalah artikan. Apalagi Rudi melihat sosok adiknya di diri Gadis yang sama persis. Dari kesalahpahaman itu akhirnya membuat Gadis tersadar bahwa apa yang dia rasakan adalah salah. Kemudian, Gadis menerima Randu saat Rudi harus merenggang nyawa karena penyakitnya.

Rudi Soedjarwo menampilkan warna biru yang indah di film ini, secara cerita film ini terbilang unik, apalagi kisah percintaan sesama jenis tak banyak di film-film kita kala itu. Walaupun film ini tidak menjurus ke tema itu. Namun film ini menjadi baik di mata saya, karena drama yang disajikan benar-benar menyentuh.

15. JERMAL

Cast : Didi Petet, Iqbal Syahputra Manurung
Rilis : 12 Maret 2009
Director : Ravi Bharwani, Rayya Makarim, Utawa Tresno

Sebuah kisah hubungan yang tak harmonis antara seorang ayah dan anaknya. Sang anak menganggap bahwa ayahnya adalah seorang pengkhianat keluarga yang tak pernah memperhatikan anak dan keluarganya, sebaliknya sang ayah tak pernah menerima kehadiran anaknya. Dari situlah muncul masalah demi masalah, balas dendam sang anak yang akhirnya merasa tak disukai oleh ayahnya sendiri, hingga siksaan demi siksaan yang diterima sang anak dari teman sekerjanya di sebuah rig di Jermal. Jaya (Iqbal Syahputra Manurung) adalah anak itu dan Johan (Didi Petet) adalah ayahnya.

Jaya terpaksa menemui sang ayah karena ibunya sudah meninggal di sebuah rig lepas laut. Rig itu sebenarnya adalah ilegal karena mempekerjakan anak dibawah umur. Jaya yang awalnya ingin mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang ayah mulai merasa ditekan dan disiksa. Akhirnya Jayapun berubah menjadi laki-laki tangguh yang punya dendam mendalam. Dia berubah menjadi sosok yang pesimis terhadap hidup dan sinis terhadap ayahnya sendiri serta keras dalam menghadapi hidup. Dia sudah tak menghargai ayahnya lagi. Sebaliknya ayahnya malah mulai merasa memiliki Jaya sebagai anaknya. Dia mulai luluh dan mencoba mengembalikan status ayahnya di mata Jaya, apalagi Johan tak mau Jaya tumbuh seperti dirinya. Di sebuah rig, mereka mencari sebuah kebenaran tentang rahasia Johan dan Jaya, semua terungkap lewat kehidupan mereka di atas rig.

Film dengan tema dan setting tak biasa ini menggugah seseorang untuk mendalami arti hubungan ayah dan anak laki-laki yang terkadang jauh hanya karena saling egois, menganggap masing-masing adalah laki-laki yang harusnya tegas namun sebenarnya saling memiliki. Didi Petet memerankan tokoh Johan dengan baik begitu pula dengan, sebagai pendatang baru dan memerankan perang anak yang disiksa, dia berusaha keras dengan ekspresi tubuh dan wajah yang baik. Jermal punya nasihat yang baik tentang keluarga dan kerasnya hidup di atas laut luas.

14. PETUALANGAN SHERINA

Cast : Sherina Munaf, Derby Romero, Djaduk Ferianto, Butet Kertaradjasa, Didi Petet, Mathias Muchus
Rilis : 14 Juni 2000
Director : Riri Riza

Sherina (Sherina Munaf) adalah gadis kecil yang enerjik, penuh semangat dan optimistis. Dia selalu membuat hidupnya berwarna meskipun dalam situasi yang sulit sekalipun. Dia dan keluarganya pindah dari Jakarta ke sebuah perkebunan teh di daerah Lembang. Kemudian hidup di mansion milik orang paling kaya di Lembang Ardiwilaga (Didi Peter). Di sana, dia bersekolah dan satu kelas dengan Sadam (Derby Romero) anak Ardiwilaga, bos dari ayah Sherina. Mereka awalnya bermusuhan ala anak kecil, kemudian saling bantu membantu saat mereka berkelilih perkebunan dan tertangkap oleh gerombolan Kertaradjasa (Djaduk Ferianto) yang menginginkan perkebunan Ardiwilaga.

Film pertama yang menjadi pembuka bagi film-film sepanjang 10 tahun ini, meskipun ini adalah film anak-anak namun film ini mampu membius orang-orang dewasa menontonnya. Riri Riza dan Mira Lesmana adalah jaminan bagi film selanjutnya yang mereka buat.

13. PINTU TERLARANG

Cast : Fachry Albar, Marsha Timothy, Ariyo Bayu, Otto Djauhari
Rilis : 22 Januari 2009
Director : Joko Anwar

Menghela nafas dengan sangat leganya bahwa masih ada sineas Indonesia yang mau dan mampu membuat karya berkualitas di atas rata-rata dengan eksekusi yang tak biasa. Joko Anwar bisa jadi adalah sebuah jaminan bahwa film di tangan dia pasti hasilnya memuaskan, paling tidak untuk mata penonton terlebih dahulu, sebelum masuk ke cerita, plot, opening bahkan ending. Joko Anwar mampu memanjakan mata penonton dengan tampilan-tampilan gambar yang bagus, kolaborasi antara vintage dan retro (istilah saya-nya gitu, jadi jangan tanya artinya ). Kemudian kembali ke cerita.

Film ini disebut-sebut adalah sekuel dari KALA, film Joko Anwar yang paling sempurna di mata saya. Meskipun sebenarnya saya tidak menemukan titik perhubungan antara KALA-Pintu Terlarang, namun mengutip perkataan Ariyo Bayu. Hubungan pertemanan seperti hubungan dengan Tuhan. Ada pertanyaan yang tak bisa dijawab, itu disebut Iman atau kepercayaan. Ya, dan saya percaya bahwa disadari atau tidak Kala-Pintu Terlarang ada hubungannya.

Cerita dimulai dengan sosok Gambir (Fachry Albar), pematung sukses dan bla–bla–bla. Hingga dia bertemu dengan situasi yang luar biasa sulit. Seorang anak kecil disiksa dan nurani Gambir terusik, Talyda (Marsha Timothy) sang istri, Dandung (Ariyo Bayu) dan Rio (Otto Djauhari) dan lainnya kemudian seperti ada di balik semua peristiwa yang terjadi dalam hidup Gambir. Jawaban dari segala pertanyaan Gambir selama hidup terkuak dalam sebuah pintu di rumahnya.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan salah satu Sutradara terbaik Indonesia juga, sempet ngobrol dan bertukar pikiran tentang bagaimana mentranslasikan Novel ke Film atau sebaliknya. Dan kata Sutradara itu, dia sangat tidak ingin mentranslasikan Novel ke Film karena apa? fantasi atau bayangan kita yang tertuang akan selalu berbeda masing-masing otak. Dan saya setuju. Mungkin bayangan saya tentang Pintu Terlarang beda dengan apa yang dibayangkan oleh Joko Anwar sehingga, jujur saya, feel-nya gak bisa saya pegang dan rasakan. Okelah, buku dan film adalah dua media berbeda dan saya sadar itu. But anyway, film ini masih bisa membuat saya berdecak kagum dengan karya-karya Joko Anwar yang sangat “Joko”, dari musik sampai gambar.

12. PEREMPUAN PUNYA CERITA

Cast : Rieke Dyah Pitaloka, Rachel Maryam, Kirana Larasati, Fauzi Baadilla, Shanty, Sarah Sechan, Susan Bachtiar, Winky Wiryawan
Rilis : 17 Januari 2007
Director : Fatimah T. Rony (Cerita Pulau), Upi (Cerita Yogyakarta), Nia Dinata (Cerita Cibinong), Lasja F. Susatyo (Cerita Jakarta)

4 Cerita dengan 4 benang merah yang cukup kuat. Cerita pertama adalah Cerita Pulau berkisah tentang seorang bidan bernama Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) yang mendedikasinya dirinya untuk sebuah pulau di gugus kepulauan seribu. Dia divonis mengidap kanker payudara. Di saat yang sama, dia adalah sahabat dekat seorang gadis yang terkena gangguan jiwa bernama Wulan (Rachel Maryam), Wulan diperkosa oleh pemuda-pemuda tak bertanggung jawab. Hingga Sumantri harus membagi dilema antara kebenaran dan sebuah kepahitan untuk Wulan dan untuk dirinya sendiri.

Cerita kedua bersetting di Yogyakarta, kehidupan seksualitas anak-anak SMA tersorot tajam dan jelas disini. Safina (Kirana Larasati) seperti satu-satunya perawan di kota pelajar itu. Teman-temannya sudah merasakan hubungan sex bahkan sejak SMP. Dari lubuk hati paling dalam, Safina ingin seperti teman-temannya, menikmati sex. Namun, prinsip dia adalah memberikan keperawanannya kepada orang yang tepat. Orang itu adalah Jay Anwar (Fauzi Baadilla), reporter yang menyamar sebagai Mahasiswa. Dia menyoroti semua kebusukan pelajar-pelajar Jogja. Sampai pada satu hari, Safina sadar bahwa dia sedang diperalat oleh Jay untuk mendapatkan berita.

Cerita ketiga menurut saya adalah cerita yang paling menarik dari 4 cerita di film ini. Esi (Shanty) harus menghidupi anak satu-satunya yang tak ber-ayah. Dia adalah cleaning service pub dangdut lokal di Cibinong. Salah satu primadona pub bernama Cicih (Sarah Sechan) adalah teman baiknya, dia sering memperingatkan Esi tentang keselamatan anaknya yang bisa-bisa sudah diperawani oleh pemuda-pemuda kampung. Awalnya Esi hanya mendengarkan ocehan Cicih, hingga dia benar-benar melihat sendiri saat anaknya hampir digagahi. Esi ditolong Cicih, namun obsesi Cicih untuk menjadi artis ibukota membawa masalah bagi Esi. Cicih kabur bersama anak Esi, hingga mereka terlibat dalam perdagangan perempuan.

Cerita terakhir adalah seorang wanita tegar bernama Laksmi (Susan Backtiar) yang mengidap penyakit AIDS yang ditularkan oleh suaminya sendiri Reno (Winky Wiryawan). Setelah Reno mati karena AIDS, dia hidup dalam bayang-bayang mematikan. Apalagi, orang tua Reno malah menuduh Laksmi-lah biang keladi dari kematian Reno. Laksmi bertahan demi anaknya Bebe (Ranti Maria), hingga dia akhirnya menyerah atas nasibnya, nasib yang membawanya dia pergi tanpa sang buah hati.

4 drama dengan kekuatan tersendiri. 4 sutradara perempuan dengan ke-khas-an sendiri membuka bahkan menelanjangi mata saya tentang kehidupan yang sesungguhnya. Realita yang sebenar-benarnya ada di Indonesia. Sex, AIDS, perdagangan perempuan bahkan pelecehan seksual adalah inti dari 4 cerita itu. Salut untuk konsep yang luar biasa ini.

11. THE PHOTOGRAPH

Cast : Lukman Sardi, Shanty, Indy Barends, Lim Kay Tong
Rilis : 05 Juli 2007
Director : Nan T. Achnas

Dikisahkan, Sita (Shanty), perempuan Jawa yang berprofesi sebagai penyanyi di sebuah karaoke bar, harus pindah dari rumah saudaranya, Rosi (Indy Barends), ke sebuah kamar di loteng sempit. Kamar itu terletak di sebuah rumah yang berfungsi juga sebagai studio foto milik Johan Tanujaya (Lim Kay Tong), seorang juru foto keliling keturunan Tionghoa. Demi ingin membayar hutangnya kepada Suroso (Lukman Sardi), germo yang membawanya ke kota, Sita juga, harus kerja sambilan sebagai pekerja seks komersil. Ia juga ingin mengumpulkan cukup uang untuk dapat bertemu dan membawa anaknya, Yani, yang harus ditinggalkan bersama neneknya yang sakit-sakitan.

Cerita ini benar-benar menyentuh, tentang pengorbanan Sita menghidupi anaknya dalam berbagai cara. pengorbanan Johan Tang yang masih memotret meskipun usia senja. Chemistry Shanty-Lim Kay Tong benar-benar terjalin.

10. 3 HARI UNTUK SELAMANYA

Cast : Nicholas Saputra, Adinia Wirasti

Rilis : 08 Juni 2007

Director : Riri Riza

Yusuf (Nicolas Saputra) pemuda berusia 21 tahun bersama Ambar (Adinia Wirasti), gadis berusia 19 tahun, melakukan perjalanan selama tiga hari dari Jakarta menuju Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan kakak kandung Ambar.

Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh selama satu hari tersebut molor menjadi tiga hari karena mereka seringkali mengubah rencana perjalanan dengan berhenti dan menginap di beberapa tempat lain. Dalam perjalanan itulah terjadi beberapa kejadian menarik diantara mereka berdua terkait dengan budaya daerah yang mereka lewati. Selain itu, dalam beberapa hal, Yusuf dan Ambar mempunyai perbedaan prinsip dalam hidup mereka.

Yusuf dan Ambar adalah anak muda jaman sekarang. Tidak seperti orang tua mereka yang masih menjunjung budaya timur yang cenderung kolot, mereka adalah contoh dari “generasi MTV”, sebuah generasi yang lebih bebas dari dibandingkan generasi terdahulunya.

Selama tiga hari itu pula, sedikit banyak mengubah cara pandang mereka dalam meraih masa depan yang ingin mereka raih ataupun harus ditempuh dalam menjalan kehidupan.

Well, bisa saya bilang kalau film ini penuh dengan filosofi, umunya film filosofi adalah dialog-dialog dengan bahasa berat tidak saya temukan dalam film ini. Rupanya, Riri Riza dan Mira Lesmana sudah pada tahap “Memberikan pelajaran hidup tanpa bermaksud menggurui” ala Deddy Mizwar dan saya rasa cukup berhasil. Dialog antara Nicholas dan Adinia sangat mengalir tanpa beban, mereka seolah-olah ngobrol layaknya dua anak muda ngobrol jangan sekarang, ceplas-ceplos namun punya arti.

Sebenernya genre seperti ini cukup membuat orang berfikir agar menonton ini dalam keadaan siap. Siap untuk menerima kejutan dan ekpekstasi pergeseran budaya yang dialami oleh remaja dan anak muda sekarang. Sex, Drugs, Rokok, Dirty talk ada di sepanjang film ini. Semua komplit dan terlihat natural, seolah-olah ini memang sudah terjadi di lingkungan kita sekarang. Dan itu memang terjadi. Namun, sebenarnya ada satu hal yang bisa jadi saya kurang bisa paham, yaitu satu scene dimana ibu dari Ambar meminta tolong kepada Yusuf untuk menjaga seperangkat alat makan saat mereka jalan menuju Jogja, mungkin hal itu kurang di ekspose, tapi mengapa harus diadakan scene ini seolah-olah scene itu begitu berarti. Atau itu hanya simbol tentang sebuah tanggung jawab? Ya, point taken.

Akting Nicholas sudah berkembang lebih baik di film ini dan Adinia, she’s hot in here . Brilian dan talented. Endingnya? Weh, ini dia, penonton disuruh mikir lagi, film yang bagus pasti mempunyai ending yang bagus pula. Tapi ending yang bagus belum tentu dimiliki oleh semua film bagus.

09. HEART-BREAK.COM

Cast : Ramon Y. Tungka, Raihaanun Soeriaatmadja, Ananda Omesh, Sophie Navita
Rilis : 03 Desember 2009
Director : Affandi Abdul Rachman

Komedi-Romantis-Indonesia? Bisa jadi semuanya kompak akan menjawab “Really?”. Yeah, Really it’s real. saya sendiri selalu mendapatkan “semacam” propaganda bahwa menonton Komedi-Romantis pastinya akan mudah tertebak : Berkenalan dengan cara yang gak biasa-berseteru pada awalnya-saling membutuhkan-intrik-klimak-ending-bubar.

Affandi Abdul Rachman mencoba mencari formula lain yang (sangat jarang) saya temui di ranah Komedi-Romantis, even Hollywood sekalipun. Fandi mematahkan propaganda yang sudah saya ciptakan menjadi terobosan baru bahwa Komedi-Romantis tidak perlu menyatukan dua sejoli dengan cara yang terlalu biasa. Tapi dua sejoli itu sudah bersatu di awal cerita, Okelah, karena ini film baru pastinya saya gak akan menceritakan A-Z film ini.

Scene-scene awal adalah penderitaan buat saya. Sosok Agus (Ramon Y. Tungka) yang menye-menye (dan mungkin inilah realita bahwa laki-lakipun bisa benar-benar patah hati) membuat saya merasa ada di dunia lain buatan Affandi yang menciptakan tokoh pria tak-macho dan cengeng. Namun kemudian, metamorfosis Agus membuat kekuatan tersendiri di film ini. Ramon memang sudah ada di plot yang seharusnya, kemudian ada Wawan (Ananda Omesh) yang banyak orang disebut sebagai “Stealing Scene” namun bagi saya karakter Wawan adalah karakter pembangun bagi karakter-karakter lain yang berdekatan. Istilahnya dia adalah trigger untuk membuat karakter lain hidup.

Dari awal sampai akhir yang saya fikirkan adalah bagaimana mengeksekusi film ini sampai habis tanpa sisa, padahal banyak celah dalam film ini yang bisa dimasukkan dan bisa menciptakan ending dengan berbagai versi. Apa yang dilakukan oleh Affandi adalah biriliant, pakem komedi-romantis telah dia patahkan -at least imaginary ending yang ada di otak saya gak terpakai sama sekali di film ini.

Well Done bang Fandi, like i said, Pencarian Terakhir was good, HBDC is superb, genius, real in reality love-comedy story! 

08. LASKAR PELANGI

Cast : Lukman Sardi, Cut Mini, Ikranegara, Tora Sudiro, Ariyo Bayu, Veris Yarmano
Rilis : 25 September 2008
Director : Riri Riza

Para sineas Indonesia bisa jadi belum sepenuhnya bisa mentranslasikan cerita novel ke dalam bentuk gambar bergerak berdurasi 120 Menit. Sebut saja Ayat-ayat Cinta yang digadang-gadang sukses mentraslasikan kesuksesan novelnya. Meskipun sebenarnya secara perolehan penonton tak terlalu mengecewakan. Tapi, banyak yang bila essensi novelnya mendadak hilang, blur, bias, ambisaya dan nada negative bagi para pecinta novel sejati. Mungkin bagi orang awam seperti saya yang tak terlalu membaca novel tersebut, film ini bisa jadi sangat memikat.

Begitu juga dengan Laskar Pelangi, saya mendapat rekomendasi dari salah seorang kaskuser tentang buku yang bisa menggugah jiwa, bahkan bisa menggoncang kalbu saya, judulnya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Awalnya saya kira penulis adalah orang Jepang atau non-Indonesia, melihat dari namanya. Setelah membeli sayapun tak membacanya, biasalah, saya terkadang membeli sebagai pajangan belaka . Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kabar Laskar Pelangi dijadikan film, langsung saya saya membongkar pajangan saya itu dan membacanya selembar demi selembar. Takjub? tergugah? Sorry to say, gak sama sekali. Andrea terlalu menggambarkan Belitong dengan sangat super-hyper detail yang menurut saya useless. saya ingin aksi yang tegas, bukan penjelasan panjang-lebar tentang demografi sebua daerah. Namun, semuanya terbayarkan tatkala memasuki bab-bab selanjutnya, bisa jadi memang sangat inspirasional, lugas namun belum terlalu tegas.

Film dibuka dengan prolog Ikal dewasa, menjelaskan secara singkat apa itu Beliton dan apa itu SDN Muhammadiyah Gantong. Jelas, cukup jelas visualisasinya. Kemudian bergantian anggota Laskar Pelangi itu muncul dan diceritakan dengan singkat. Tokoh sentral film ini bisa jadi hanya Ikal-Lintang-Mahar. Okelah, tak perlu membandingkan dengan buku. 10 Orang anak bekerja keras agar mereka tetap sekolah dan berprestasi demi mengangkat nama sekolahnya, tampak seperti sebuah perjuangan yang luar biasa. Ikal yang dimabuk cinta oleh gadis anak penjual toko kelontong, Mahar yang bisa jadi gila gara-gara percaya akan ilmu mistik dan Lintang, sosok anak muda tak kenal lelah dan sangat cerdas harus mengalah pada nasib.

Dari ketiga tokoh itu, saya malah sangat terharu apda kisah Lintang. Andai saja ada spinn-off Laskar Pelangi. Tokoh Lintang yang pantas dibuat filmnya, bagian ini yang membuat film ini sangat inspirasional sebenarnya, bukan karena Laskar Pelangi itu. Tapi karena Lintang ada di Laskar Pelangi.

07. ARISAN

Cast : Cut Mini, Aida Nurmala, Tora Sudiro, Surya Saputra
Rilis : 10 Desember 2003
Director : Nia Dinata

Arisan adalah cerita tentang kehidupan metropolitan Jakarta yang dinamis. Ada wanita yang disia-siakan suaminya hanya karena dia tak bisa hamil, Meimei (Cut Mini), wanita yang menginginkan keluarga sempurnya namun rupanya suaminya berselingkuh, Andien (Aida Nurmala) dan pria gay yang menutup diri karena tidak ingin dijauhi sahabat-sahabatnya, Sakti (Tora Sudiro). Mereka berusaha menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan cara mereka sendiri, hingga konflik pertemanan yang sempat membuat persahabatan mereka goyah.

Film breaktrough dengan tema yang cukup berani, menampilkan hubungan sejenis dengan problematikanya. Bergaya metropolitan banget dan high class. Elegan dan eksklusif. Film ini adalah awal karir dari Tora Sudiro, dia menyabet penghargaan Best Actor dan bahkan Arisan menjadi Film terbaik di FFI pertama setelah 12 tahun vakum.

06. JANJI JONI

Cast : Nicholas Saputra, Rachel Maryam, Surya Saputra, Mariana Renata
Rilis : 27 April 2005
Director : Joko Anwar

Beriksah tentang pengantar rol film yang mempunyai prinsip, tak pernah terlambat. Joni (Nicholas Saputra) adalah orang itu. Sudah lama dia bekerja di bidang ini, sehingga di ahafal betul tipikal penonton film di bioskop. Hingga dia menemukan wanita terindah yang pernah dia temui di bioskop. Dalam perjalanan mengantar rol, terjadi kejadian-kejadian yang tak terduga yang bisa mematahkan prinsip dia. Namun, dia berusaha menepati prinsipnya meskipun dia harus melawan bahaya.

Idenya segar, castingnya juga tak buruk. Filmnya sedikit bergaya retro namun tak usah diragukan lagi kualitasnya. Salah satu buktinya adalah Joko Anwar sebagai sutradara sekaligus penulisnya.

05. ADA APA DENGAN CINTA?

Cast : Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Nicholas Saputra, Sissy Pricillia, Ladya Cheril, Nicholas Saputra
Rilis : 08 Febuari 2002
Director : Rudi Soedjarwo

Kisah romantis semasa SMA memang indah, walau kadang menyakitkan. Itu yang dirasakan Cinta (Dian Sastrowardoyo), gadis yang mencoba mencari cintanya di SMA kemudian terhalang oleh persahabatan erat dengan Milly (Sissy Pricillia), Maura (Titi Kamal), Alya (Ladya Cheril) dan Karmen (Adinia Wirasti). Saat bertemu dengan Rangga (Nicholas Saputra), Cinta menjadi sangat berbeda, hidupnya harus terbelah antara Rangga dan teman-temannya. Dia harus memutuskan di bagian mana dia harus hidup.

Lihatlah semua main castnya, mereka telah menjadi aktor dan aktris papan atas yang pada akhirnya menjadi bintang utama di film-film selanjutnya. Titi Kamal di Mendadak Dangdut, Ladya Cheril di Fiksi, Sissy Priscillia di Cintapuccino dan Adinia Wirasti di 3 Hari Untuk Selamanya. Film yang disebut-sebut sebagai tonggak dari bangkitnya film Indonesia ini memang tak mempunyai tema yang beda, namun penyajian dan penampilan aktingnya membuat film ini menjadi menarik dan sangat diminati. Tercatat film ini menjadi film terlaris di tahun tersebut.

04. NAGABONAR JADI 2

Cast : Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno
Rilis : 29 Maret 2007
Director : Deddy Mizwar

Melanjutkan cerita selanjutnya, Nagabonar (Deddy Mizwar) mulai hidup sendiri sepeninggal istrinya. Dia kemudian diajak oleh anaknya, Bonaga (Tora Sudiro) ke Jakarta, kesuksesan Bonaga dalam pekerjaan memaksa Nagabonar untuk mengenal Jakarta dari sudut pandangnya, hingga nasionalisme Nagabonar yang diuji oleh anaknya sendiri. Retorika kehidupan Nagabonar yang seorang mantan pencopet kemudian menjadi ayah dari pengusaha sukses membuat Nagabonar harus beradaptasi dengan modernisasi.

Film ini membuat pamor Tora Sudiro kembali naik, setelah sukses di Arisan, dia menjadi aktor papan atas berkat didikan Deddy Mizwar di film ini. Deddy Mizwar mencoba kembali mengingatkan penonton akan pentingnya nasionalisme dan penerapannya di kehidupan modern. Lukman Sardi menjadi pemeran pendukung pria terbaik di FFI 2007, dan film ini juga menjadi Film terbaiknya.

Mengangkat kembali kisah yang 20 tahun telah hilang memang sulit, namun Deddy Mizwar bisa membuktikan itu.

03. EMAK INGIN NAIK HAJI

Cast : Atik Kanser, Reza Rahadian, Didi Petet, Henidar Amroe
Rilis : 12 November 2009
Director : Aditya Gumay

Menunjukkan kesederhanaan dan keindahan Islam sebenarnya tak perlu pergi ke Mesir atau membuat Mesir buatan di India. Tapi kesederhanaan Islam dan toleransi bisa dilakukan si sebuah tempat dekat Tanjung Priok, Jakarta, Indonesia.

Kisah yang begitu membuat saya tergerak, tersentak bahkan hampir saya menitikkan air mata (bener deh ga boong ). Film dengan cerita sederhana namun benar-benar sangat nikmat untuk diikuti. Film ini berkisah tentang kegigihan Zein (Reza Rahadian) seroang duda beranak satu yang ditinggal cerai oleh istrinya karena faktor ekonomi. Zein sendiri sangat mencintai Emak (Atik Kanser) sosok ibu bersahaja yang punya keinginan besar : Naik Haji. Dengan segala upaya Zein mencoba untuk mewujudkan keinginan Emak dengan segala hal termasuk hampir melakukan perbuatan dosa. saya sebenarnya tertipu dengan plot yang bagus, tak tertebak malahan. Dari departemen cast sendiri Reza Rahadian menunjukkan totalitas dalam berakting, benar-benar beda tak seperti dia dalam sinetron-sinetronnya.

Atik Kanser sudah mempunyai kelas dalam aktingnya, sebagai Emak yang tulus, dia memang benar-benar tulus berakting. Didi Peter, Helsi Helsinda dan Henidar Amroe menambah semarak film ini dengan kemampuan mereka. Cukup empat orang itu sebenarnya film ini sudah menarik, cast yang lain mungkin karena baru beberapa kali menjajal dunia akting jadi bisa dimaafkan.

Muka Lo tuh Gak Fokus! Hail Siti! kosakata baru buat ngejelek-jelekin orang hahaha

Ceritanya sendiri bukan hanya tentang Zein dan Emak dalam mewujudkan keinginan, namun ada Pak Haji (Didi Peter) saudagar kapal kaya yang sering naik haji yang rumahnya bersebelahan dengan Emak, kemudian mantan istri Zein (Helsi Helsinda) yang tetap meminta uang dari Zein kemudian konglomerat yang terjerat perselingkuhan yang ingin naik haji hanya karena jabatan. Kisah-kisah yang terkadang klise namun punya nasihat yang bagus.

02. GIE

Cast : Nicholas Saputra, Thomas Nawilis, Sita Nursanti, Lukman Sardi
Rilis : 14 Juli 2005
Director : Riri Riza

Gie (Nicholas Saputra), seorang demonstran yang mencoba memperbaiki kerusakan bangsa dengan pemikirannya. Dia dan teman-temannya mencoba menggulingkan orde lama yang sudah mulai korup dan meminta pemerintahan Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Film tentang biografi seorang demonstran yang pandai berkata-kata ini membuka cakrawala baru bahwa film semi-dokumenter ini tak harus selalu berat dan susah ditonton. Ada sisi hiburan di film ini yang menjadikannya film ini menarik ditonton. Film yang disiapkan begitu detail ini sangat menggugah saya tentang kisah sejarang orang-orang hebat di negeri ini.

01. KALA

Cast : Fachry Albar, Ariyo Bayu, Fahrani

Rilis : 19 April 2007
Director : Joko Anwar

Seorang polisi bernama Eros (Ario Bayu) menyelidiki kasus kematian 5 laki-laki yang dibunuh oleh massa. Seorang jurnalis bernama Janus (Fachri Albar) juga meliput insiden itu untuk korannya. Negeri tak bernama itu sedang dibayangi kekacauan: kekerasan, bencana alam, ketidakadilan. Sebagian masyarakat semakin lama semakin ganas. Sebagian lagi menunggu seseorang yang disebut-sebut sebagai “Ratu Adil”, pemimpin yang akan membawa negeri mereka keluar dari bencana. Tanpa mereka sadari, Eros dan Janus terjebak dalam sebuah labirin penuh misteri dan bahaya. Janus tak sengaja menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sebuah rahasia penting. Setiap kali dia menceritakan rahasia itu kepada orang lain, orang itu mati dengan mengerikan. Saat Eros juga mengetahui rahasia itu, Janus dan Eros tahu bahwa salah satu dari mereka harus mati. Kecuali jika mereka berhasil menemukan Ratu Adil sebelum malaikat pencabut nyawa datang.

Menggambarkan bagaimana bobroknya sebuah negara tanpa harus menyinggung sebuah negara adalah dengan cara membentuk negara khayalan yang bisa kita bebas kreasikan. Mungkin itu yang dilakukan oleh Joko Anwar. Dia membuat Republik, sebuah negara antah berantah yang korup, penuh kekerasan, demoralisasi dan keburukan-keburukan lainnya. Kemudian memasang aktor-aktris yang rata-rata baru saat itu menjadi pilihan yang tepat untuk membentuk karakter yang sesuai dengan keinginan sang sutradara. Film ini menjadi sempurna di mata saya karena faktor-faktor yang gue nilai selalu sempurna. Meskipun ada beberapa celah namun itu bisa dimaafkan.

Film thriller psikologis ini menjadi film terbaik selama 10 tahun pertama di abad 21 dalam versi saya. Tak dipungkiri, ada hal yang tak bisa dijelaskan namun kadang bisa dipahami. Film yang luar biasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s