Kompilasi Pemenang XXI Short Film Festival 2015

10 film pendek pemenang XXI Short Film Festival 2015 memiliki tema dan karakteristik yang berbeda-beda, ada yang sangat menarik dan ada yang sangat membosankan. Namun yang perlu diacungi jempol adalah kemampuan sutradara-sutradara muda yang nantinya menjadi tumpuan perfilman Indonesia di masa yang akan datang, mereka di atas rata-rata.

42filmpendek

Saya akan coba urutkan dari yang paling saya sukai sampai yang biasa-biasa saja:

LEMANTUN | Wregas Bhanuteja/20 menit

Berkisah tentang seorang Ibu dengan lima anaknya yang sudah sukses satu persatu. Dalam sebuah eprtemuan keluarga, sang Ibu memberikan ‘hadiah’ kepada lima anaknya, masing-masing sebuah lemari. Ada filosofi mendalam dalam pemberian hadiah itu, Ibunya tahu bahwa hati mereka tergambar jelas melalui lemari yang mereka dapatkan.

4/5

DJAKARTA-00 | Galang Ekaputra Larope/9 menit

Inilah penggambaran Jakarta pasca bajir bandang yang amat sangat hebat, seperti tombol reset, Jakarta memulai hidupnya yang baru. Orang-orangnya berubah menjadi apatis, lalu hadir Gani, seorang seniman yang ingin mengubah Jakarta melalui lukisannya. Film setting masa depan yang digambarkan seperti lukisan dalam kanvas basah.

3.5/5

A WEEK WITH HERU | Made Dimas Irawan/3 menit

Heru, seminggu bersama sosok ini sangat ‘menyenangkan’. Melihat keseharian Heru yang membuat tawa sekaligus tragis. Dibalut animasi sederhana yang sangat tepat.

3.5/5

THE DEMITS | Ruben Adriano/6 menit

Seorang pemuda ingin membersihkan namanya di saat terakhir hidupnya, agar kematiannya nampak layak di mata teman-temannya. Animasi menggelitik dan segar.

3/5

05:55 | Tiara Kristiningtyas/13 menit

27 Mei 2006, sesaat sebelum pukul 05:55 di mana Merapi meletus di sebuah desa di Jogjakarta, keseharian manusia-manusia yang tak pernah tahu bahwa nasibnya akan berubah tepat di jam 05:55. Meski tanpa dialog namun film pendek ini mampu membuat saya sedikit merinding.

3/5

IBLIS JALANAN | Salman Farizi/11 menit

Sebuah dokumenter tentang orang-orang di balik aksi paling berbahaya di muka bumi.

3/5

ONOMASTIKA | Loeloe Hendra/15 menit

Apalah arti nama? sebuah kiasan klasik yang menjadi inti dari film pendek ini. Seorang anak umur belasan yang hidup tanpa nama.

3/5

DIGDAYA ING BEBAYA | BW Purba Negara/16 menit

Kehidupan 3 wanita kuat di lereng Merapi demi bertahan hidup setelah letusan besar terjadi.

2.5/5

PRET | Firman Widyasmara/4 menit

Sayang sekali film pendek yang seharusnya sarat makna ini jadinya malah terkesan biasa. Padahal konsepnya bagus.

2/5

HARI YANG LAIN UNTUK BAKKA’ SENDANA | N. Priharwanto/7 menit

Buat saya, film ini paling lemah di antara film pendek lainnya.

2/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s