Should I Change?

run

Gue ingat saat suatu hari di sebuah klinik kecil di Jayapura.

Dokter: “Mas, coba timbang berat badan kamu”

(gue dengan hati-hati mengangguk dan naik ke timbangan)

Angka timbangan itu ada di 99 kg.

Dokter tersenyum sembari berujar: “1 kilo lagi gimana? biar pas 100”

Gue tertawa, getir, sakit. Tapi apa daya, toh memang gue pemalas. Dan guepun akhirnya berani bertanya: “Oke Dok, begini situasinya… bla–blaa… saya butuh obat kurus dan setelah berat badan saya ideal saya akan menjaga berat dengan baik”

Dokter mengangguk pelan: “Minum ini (dia menulis resep), tapi jangan sampai ketagihan”

Seminggu mengkonsumsi pil tersebut, benar. gue turun 7 kg ke angka 92 kg. Senang dan merayakannya dengan.. Makan-makan.

Semua berulang di sekitar itu saja, sampai gue pindah ke Jakarta 2013. Tak ada niatan gue untuk berubah padahal Bos di kantor sering menyindir gue terlalu gendut, dan sebagainya. Hingga akhir 2013 gue merasa: “Oke, I have to stop eating, trying to get health”, karena 2 bulan sebelumnya gue bolak-balik ke dokter dan mengkonsumsi obat selama 2 bulan itu. Awal 2014 adalah permulaan yang berat. Gue memulai perjalanan menuju sehat gue (asumsi gue ingin kurus gue coba hilangkan sejauh mungkin. Yang penting gue sehat!).

Agustus 2014. Pola hidup gue berubah. Gue berada di titik terbaik hidup gue (meskipun berat badan baru turun sekitar 10-an kilogram). Dan di titik itulah gue memulai hal yang sebelumnya gue benci: Lari.

Entah ada angin apa, setelah lebaran 2014 itu gue memutuskan untuk mengambil sepatu lari yang tak pernah terpakai, kemudian beranjak dari kasur dan memulai lari dengan semangat membara (oke lebay). Dan hasilnya. Gue semakin menyukai lari.

medali

Awal gue lari hanyalah sekedar ingin sehat, hingga 2015 guepun terus meyakinkan diri gue bahwa gue hanya ingin sehat, tak perlulah ikutan event lari sana sini. Buat apa ikutan event yang udah bikin capek eh disuruh bayar pula.

Hingga omongan gue itu kemakan sendiri. 2016 gue mulai rajin ikut event lari. 10 event dalam satu tahun (ya memang masih dikit sih). Mulai dari Pocari Run sampai ke BRI Run di penghujung 2016. Hal positive dari lari adalah: Berat badan gue sempat ada di 72 kg (ini prestasi terbaik– dan kemudian gue kembali di 75-76 kilo *emang pasnya segini*), punya banyak temen di dunia lari dan akhirnya expanding my relationship with all of great runners. Dan tentunya gue melawan rasa malas diri gue (ini achievement paling penting).

Hal tergila yang pernah gue lakuin di 2016 adalah: GUE LARI 42 KILOMETER DI BALI. DAN FINISH PULA!

Bagi gue, event yang paling berkesan adalah Bali Marathon dan Borobudur Marathon. Both in different way.

Lari adalah hobi gue saat ini, gue mencintai lari. Dan mumpung masih cinta, maka akan gue manfaatkan untuk memperbaiki diri gue menuju manusia yang selalu sehat.

So, Should I Change? Yes.

How about you?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s