Film Lebaran 2018: Kemunduran Kualitas?

Sudah sejak tahun 80-an Industri perfilman Indonesia memiliki ‘tradisi’ merilis film-film terbaiknya di hari Lebaran, karena di saat libur Lebaranlah daya beli Masyarakat naik, termasuk menonton film di bioskop. Dan tradisi itu berlanjut sampai sekarang. Alih-aling mengharapkan peningkatan omzet film dengan mengundang banyak penonton untuk menyaksikan film-film terbaik saat Lebaran, tahun ini dengan amat disayangkan point ‘peningkatan omzet’-pun bisa jadi gagal dan ditambah dengan kemunduran kualitas, terutama kualitas cerita.

 

lebaran

Cuplikan hasil sementara jumlah penonton sampai 21 Juni 2018 menunjukkan belum ada film Lebaran yang mampu meraih penonton di atas satu juta. Padahal tahun lalu saja, hanya dalam 2 hari penayangan, film Jailangkung mampu meraih 200 ribuan penonton, dengan total penonton sampai hari terakhir penayangan 2.550.271 penonton yang disusul oleh Sweet 20 dengan 1 juta penonton.

 

lebaran17

Lalu, faktor apa yang membuat kelima Film Lebaran tahun ini merosot secara finansial? Jika jawabannya karena ada Incredibles 2 dan Jurassic World 2 yang rilis berdekatan dengan kelima film Lebaran, saya rasa juga tidak ada salahnya. Namun, menurut saya pribadi itu bukan satu-satunya faktor kemerosotan penonton. Ini lebih kepada masalah kualitas film-film Lebaran yang Lebaran-less (?). Tahun lalu, kita masih memiliki Sweet 20 dengan scene Lebaran yang mungkin hanya sebentar namun menjadi bridging yang baik di permulaan film. Tahun ini, tidak ada sama sekali film yang menyajikan scene Lebaran barang 1 detikpun. Hal lain, mungkin tidak adanya film yang benar-benar Film Keluarga, tahun lalu masih ada Surat Kecil Untuk Tuhan dan Sweet 20 yang nuansa keluarganya kental.

Saya sendiri hanya menonton 3 dari 5 film Lebarna tahun ini, Jailangkung 2 dan Kuntilanak sengaja saya skip karena film horror. Film pertama yang saya tonton adalah Dimsum Martabak.

dimsum.png

Film ini bercerita dengan formula klise yang tentu saja sudah bisa diprediksi alur ceritanya. Dari awal hingga akhir, semua scene dan semua plot terlalu gampang. Namun apakah itu sebuah alasan untuk membuat film ini terjun ke dalam mediocrity yang mengabaikan kualitas akting meski punya budget besar dengan Production Value yang sudah cukup baik?, Ya, tidak banyak orang/aktor yang mampu mengubah cerita klise sekalipun menjadi tontonan yang baik, itu tantangan tersendiri. Dan untuk  kasus film ini, semuanya bisa dibilang gagal.

Beralih ke film kedua, buat saya ini film yang lebih baik ketimbang 3 film Lebaran yang tayang. Film kesekian karya Raditya Dika yang mampu membuat saya berdecak kagum dengan kejeniusan Radit dalam mengolah skrip dan tontonan yang tak biasa, dengan humor di atas rata-rata, receh berkualitas kalau saya bisa bilang. Target adalah film pendewasaan diri Radit menjadi sineas yang patut diperhitungkan di jagad perfilman kita.

Konsep, cerita, twist, karakter. Raditya Dika benar-benar sudah berubah menjadi penulis cerita yang jenius. Mungkin anda bisa nebak semua isi cerita, tapi bagaimana caranya Radit membungkus dan menyetir penonton agar tetep stay sampai akhir film itu jempol. Hangout itu something that Radit can proof that he can do the thriller story. But Target is twice better than it.

target

Dan film terakhir adalah sequel dari film Lebaran tahun lalu: Insya Allah Sah 2. Jika harus membandingkan (dan memang harus tetap dibandingkan). Insya Allah Sah pertama adalah proses ‘coba-coba’ Pandji yang cukup berhasil, namun setelah jadi adonan yang pas, mendadak di sekuelnya menurun drastis. Memang saya tidak meragukan bagaimana Donny Alamsyah dan Luna Maya menjadi believable couple di film ini, chemistry mereka flawless dari awal sampai akhir.

isyaallahsah2

Jika dalam kacamata awam seperti saya, film yang menarik adalah film yang tak memiliki beban saat ditonton, terasa nyaman dari awal sampai akhir. Bahkan Target, yang menurut saya lebih baik ketimbang yang lainpun tak sebegitu wah-nya. Kesimpulan saya bahwa Film Lebaran tahun ini tidak berhasil memikat banyak penonton salah satunya lagi adalah penurunan kualitas yang cukup terasa. Kita (sebagai penikmat film Indonesia) sudah sering diberi scene-scene menarik, menawan, menggugah selera.

Namun di tiga film Lebaran ini scene-scene tersebut sebatas pemanis, bukan pengikat film. Terlepas dari semua faktor di atas, film Lebaran seharusnya bisa laku secara jumlah penonton karena masing-masing film memiliki aktor/aktris yang sudah mempunyai fanbase masing-masing, namun sayang sekali produser/crew bahkan artisnya sendiri tidak ‘memanfaatkan’ hal tersebut untuk mendongkrak penjualan tiket. Sangat disayangkan sekali.

Semoga film Lebaran 2019 membaik.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin

 

Credit: twitter @yan_widjaya, youtube for snapshoot trailer each movies, filmindonesia.or.id

Review singkat saya untuk Film Lebaran bisa dilihat di tautan berikut: 

Dimsum Martabak: https://twitter.com/djaycoholyc/status/1007538337031192576

Target: https://twitter.com/djaycoholyc/status/1007578003419770880

Insya Allah sah 2: https://twitter.com/djaycoholyc/status/1007973068050817025

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s